Iklan

Kisah Pohon Apel – Waroeng Tegal™


Saya mendapatkan kisah ini saat morning meeting di kantor dan ada salah seorang rekan kerja saya yang membawakannya.

Alkisah ada seorang anak kecil yang bermain di dekat pohon apel, karena sinar matahari cukup terik kemudian pohon apel itu bersuara. “Hai anak kecil kemarilah bermain dibelakangku, aku akan melindungimu dari panasnya matahari.” Anak itu pun menurut dan meneruskan bermain dibawah lindungan si Pohon Apel. Setelah puas bermain, anak itu pun kembali ke rumahnya

Waktu terus berlalu, anak dan Pohon Apel sangat mencintai satu sama lain. Namun anak lelaki itu kini telah tumbuh dewasa dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel  itu setiap hari

Suatu hari dia mendatangi pohon apel itu dan Wajahnya nampak sedih.
“Mari ke sini bermain-main lagi denganku” kata pohon apel itu.
Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi” jawab anak lelaki itu.
“Aku ingin sekali memiliki mainan, tetapi aku tidak memiliki uang untuk membelinya.”
Pohon apel itu menyahut, “Erm, maaf aku pun tiada uang.. Tetapi kamu boleh mengambil semua buahku dan menjualnya nanti uangnya bisa  untuk membeli mainan idamanmu”.  Anak lelaki itu sangat gembira. Dia memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.

Namun, setelah itu anak lelaki itu tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu kembali datang, dia telah tumbuh lebih besar.
Pohon apel sangat gembira melihatnya datang.
“Mari bermain-main denganku lagi” kata pohon apel.
“Aku tidak ada waktu” jawab anak lelaki itu.
“Aku telah menikah dan harus bekerja untuk keluargaku. Kami memerlukan rumah untuk tempat tinggal. Apakah kau bisa menolongku?”
“Maaf aku pun tidak memiliki rumah. Tetapi kamu boleh menebang semua dahan dan rantingku sebagai bahan membuat  rumahmu” jawab pohon apel itu. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel  itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu gembira.

Tetapi kegembiraan Pohon Apel segera hilang setelah anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu sekali lagi merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat gembira menyambutnya.
“Mari bermain-main lagi denganku” kata pohon apel. “Aku sedih” kata anak lelaki itu.
“Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlayar. Maukah kamu memberikan aku sebuah kapal?”
“Maaf aku tidak mempunyai kapal, tetapi kamu boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah “
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Dia pun pergi berlayar dan tidak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu kembali  setelah bertahun-tahun kemudian.
“Maaf anakku” kata pohon apel itu.
“Aku sudah tidak memiliki buah apel lagi untukmu.”
“Tak apa. Aku pun sudah tidak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu” jawab anak lelaki itu.
Aku juga tidak memiliki batang dan dahan yang boleh kau panjat” kata pohon apel.
“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu semua”  jawab anak lelaki itu.
“Aku benar-benar tidak memiliki apa-apa lagi yang dapat aku berikan padamu. Yang tinggal hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
“Aku tidak memerlukan apa-apa lagi sekarang” kata anak lelaki itu.
“Aku hanya memerlukan tempat untuk beristirahat. Aku sangat penat setelah sekian lama meninggalkanmu”
“Oooh, bagus sekali. Tahukah kamu, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah.”

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.
Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Apa yang dapat kita ambil dari cerita tersebut adalah ini adalah tentang cerita kita semua
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita semakin besar, kita meninggalkan mereka (seperti sekolah yang jauh dan pergi kuliah ke universitas), dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tidak peduli apa-apa pun, orang tua kita akan selalu ada untuk memberikan apa yang dapat mereka berikan untuk membuat kita bahagia.
Kita mungkin berfikir bahawa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar terhadap pohon itu,
Tetapi kadangkala tanpa kita sedari begitulah sikap kita terhadap orang tua kita.

Orang inilah yang setiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya.
Orang inilah, rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.
Sekarang, lihatlah orang tua anda  ketika sedang tidur. Bagaimana jika saat kita jauh tidak disampingnya, kita tak dapat lagi melihatnya karena mereka sudah tidur untuk selamanya.
Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat
Betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan mereka ini untuk kebahagiaan anda.
Cintailah mereka kita, dengan sebenar-benarnya cinta
Ucapkan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

What a story….

Iklan

About yudhisti

Keep learning and sharing

Posted on 21 Mei 2013, in My Self and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: