Iklan

Perbandingan Rezim Mata Uang – Waroeng Tegal™


Macam-macam Rezim Kurs/Nilai Tukar

Setiap negara di dunia harus menetapkan mata uang mereka terhadap sebagai mata uang Negara lain sebagai patokan (anchor) untuk memudahkan perdagangan antar negara. Di dunia sendiri, mata uang yang kerap menjadi patokan adalah US Dollar (USD) dan Euro (EUR). Sedangkan mata uang asia seperti Japanese Yen (JPY) dan Chinese Yuan/Reminbi (CNY) belum terlalu banyak menjadi patokan, karena mata uang kertasnya (banknotes) belum banyak tersedia di pasar sehingga cadangan devisanya masih banyak menggunakan USD. Indonesia sendiri mengalami beberapa perubahan kebijakan penerapan nilai tukar mata uang.

Pada tahun 1946 sampai awal tahun 1970, melalui Bretton Wood System nilai tukar mata uang sudah ditentukan. Pada 1971, Amerika Serikat memutuskan untuk tidak lagi mematok nilai tukar US Dollar (USD) pada 1/35 per ons emas sehingga nilai tukarnya tidak lagi fixed.

Macam-macam kebijakan nilai tukar mata uang

  1. Tipe Kebijakan Floating Exchange Rate

Pada tipe ini nilai suatu mata uang dibiarkan berfluktuasi tergantung dari banyaknya permintaan dan penawaran di pasar terhadap mata uang lainnya. Kebanyakan negara-negara di dunia menggunakan tipe kebijakan ini, dan diperdagangkan secara bebas antara lain mata uang Amerika Serikat dengan US Dollar (USD), mata uang Negara-negara Eropa yaitu Euro (EUR), mata uang Australia yaitu Austalian Dollar (AUD), dan banyak mata uang Negara lainnya.

Walau sesuai namanya, floating atau mengambang tetapi Bank Sentral suatu negara seringkali tetap masuk kedalam pasar mata uang dengan melakukan intervensi yang tujuannya mempengaruhi nilai mata uang negaranya tersebut.

Contoh kebijakan floating murni dilakukan oleh Canada dimana mata uang negaranya Canadian Dollar (CAD), karena Bank Sentral Canada tidak melakukan interfensi terhadap nilai tukarnya sejak 1998.

Manage Floating Exchange Rate

Kebijakan ini pada intinya sama dengan Floating Exchange Rate dimana kurs atau nilai tukar dapat berubah dari hari ke hari. Namun Bank Sentral akan berusaha untuk mempengaruhi nilai tukar melalui intervensi baik membeli maupun menjual mata uang lokalnya terhadap mata uang negara lain.

Salah satu contohnya adalah Japanese Yen (JPY), walau kebijakan nilai tukar menggunakan floating tapi Bank Sentral Jepang (BoJ) masih seringkali masuk ke pasar untuk melakukan intervensi mata uangnya.

 

  1. Fixed exchange-rate system

Sistem nilai tukar mata uang yang tetap, atau seringkali juga dikenal dengan pegged exchange rate system, yaitu suatu sistem nilai tukar mata uang dimana pemerintah berusaha untuk menjaga nilai tukar mata uangnya dengan nilai yang konstan/tetap. Pada sistem ini, pemerintah dapat memutuskan nilai tukar dari mata uangnya tetap terhadap berat emas yang telah ditentukan, tetap terhadap mata uang lain atau tetap terhadap suatu keranjang mata uang (basket of currency)

Kelebihan sistem ini antara lain:

  • Nilai tukar mata uang yang tetap dapat meminimalkan ketidakstabilan dalam aktivitas ekonomi
  • Bank Sentral negara tersebut memiliki kredibilitas yang lebih tinggi
  • Spekulasi harga di pasar dapat diminimalkan

Kekurangan sistem ini antara lain:

  • Nilai tukar yang ditetapkan dapat berbeda dengan harga sesungguhnya dalam kestimbangan pasar akibat permintaan dan penawaran yang ada. Hal ini dapat menyebabkan kelebihan penawaran atau kelebihan permintaan.
  • Bank sentral Negara tersebut wajib untuk menjaga ketersediaan baik mata uang negaranya maupun mata uang asing yang dijadikan acuan nilai tetap.
  • Biaya yang dikeluarkan Bank Sentral untuk melakukan intervensi pasar dapat menggerus cadangan devisa yang ada.

Pegged within a band

Merupakan pengembangan dari sistem fixed/pegged dimana pemerintah/Bank sentral juga menentukan berapa band (prosentase batas atas dan batas bawah) dari fixed/pegged yang ditentukan. Band yang ditetapkan bisa saja tidak simetris antara batas atas dan bawah dan dapat dirubah-rubah selama periode tertentu tanpa perlu adanya pemberitahuan terlebih dahulu.

 

  1. Currency Board/Basket of Curencies

Suatu Negara terkadang dapat memiliki beberapa partner Negara lain yang cukup penting dalam melakukan hubungan dagang dan dapat berbahaya jika volatilitas nilai tukar mata uangnya terlau tinggi pada periode waktu tertentu. Karena itu Negara tersebut dapat mematok nilai tukar mata uangnya ke wighted average dari beberapa mata uang Negara lain.

Sebagai contoh, suatu nilai mata uang dibuat berdasarkan 100 Rupee, 100 JPY, dan 1 USD. Maka pemerintah Negara tersebut wajib untuk menjaga cadangan devisa dari ketiga mata uang tersebut selain mata uangnya sendiri untuk memenuhi permintaan dan penawaran yang ada di pasar mata uang.

Nilai tukar yang sering digunakan adalah SDR yang dibuat oleh IMF yang terdiri dari US Dollar (USD), Euro (EUR), Japanese Yen (JPY), dan British Pounds (GBP)

  1. Dollarization/Euorization System

Pada sistem ini, Bank sentral atau pemerintah menggunakan mata uang negara lain untuk digunakan di negaranya sebagai mata uang yang sah untuk pembayaran. Contohnya adalah Negara-negara di Eropa yang sepakat menggunakan mata uang tunggal Euro (EUR) sebagai mata uangnya, nilai tukar 1 EUR di negara satu dengan yang lainnya akan sama. Contoh lain adalah penggunaan US Dollar (USD) yang digunakan oleh Negara-negara berikut : British Virgin Islans, Caribbean Netherland, East Timor, Ecuador, El Savador, dan lainnya.

  1. Sistem yang paling tepat bagi Indonesia

Faktor-faktor penentu suatu negara menetapkan mata uangnya terhadap mata uang lainnya adalah:

  • Faktor pertama adalah perdagangan antar negara, dimana dengan semakin terbukanya perdagangan suatu negara maka negara tersebut secara teori dapat memilih menetapkan  atau mengambangkan mata uangnya sendiri.

Indonesia sendiri cukup aktif dalam melakukan perdagangan dunia dan mengikuti beberapa forum ekonomi regional maupun internasional seperti APEC, G20, dll

  • Faktor kedua adalah cadangan (reserves), dimana negara yang memiliki lebih banyak cadangan devisa dapat lebih memilih untuk menetapkan mata uangnya

Cadangan devisa Indonesia saat ini berkisar USD 100 Juta, yang setara dengan nilai 3 bulan impor.

  • Faktor ketiga adalah inflasi, dimana negara yang memiliki sejarah inflasi tinggi cenderung untuk menetapkan mata uang mereka untuk mengendalikannya.

Inflasi Indonesia pada beberapa tahun terakhir cenderung stabil di kisaran dibawah 10%

  • Faktor keempat adalah neraca perdagangan, dimana negara yang memiliki kecenderungan neraca perdagangan (ekspor-impor) positif cenderung ingin melemahkan mata uangnya seperti China.

Indonesia sendiri dalam beberapa tahun terakhir secara tahunan memiliki neraca perdagangan yang positif, namun akhir-akhir ini selisih tersebut semakin mengecil karena banyaknya impor bahan makanan dan produk elektronik.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut di atas, maka rezim nilai tukar atau kurs yang sebaiknya digunakan Indonesia adalah Manage Floating Exchange Rate. Cadangan Devisa Indonesia masih rendah bahkan bila dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN yang lain. Jika Indonesia menerapkan sistem fixed seperti sebelum krisis moneter tahun 1997-1998, maka cadangan devisa dapat tergerus cukup banyak jika permintaan akan mata uang asing cukup banyak.

Pemerintah perlu untuk melindungi baik kepentingan eksportir maupun importir, dengan menjaga nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing. Jika sistem floating rate bebas yang digunakan dan tidak dijaga oleh pemerintah maka saat nilai tukar terlalu rendah eksportir dapat merugi, begitu juga sebaliknya saat nilai tukar terlalu tinggi maka importir dapat merugi dan dapat menyebabkan inflasi.

Saat nilai tukar melemah/menguat terlalu cepat tanpa adanya sebab yang jelas maka Bank Indonesia dapat melakukan intervensi supaya pasar tidak panik dan nilai tukar yang ada dapat teruse terjaga.

Iklan

About yudhisti

Keep learning and sharing

Posted on 12 Mei 2014, in Keuangan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: