Iklan

Etika Kasus Bioremediasi Chevron Indonesia – Waroeng Tegal™


Kasus Bioremediasi Chevron Indonesia

  1. Pengertian Bioremediasi

Bioremediasi merupakan penggunaan mikroorganisme untuk mengurangi polutan di lingkungan. Saat bioremediasi terjadi, enzim-enzim yang diproduksi oleh mikroorganisme memodifikasi polutan beracun dengan mengubah struktur kimia polutan tersebut, sebuah peristiwa yang disebut biotransformasi. Pada banyak kasus, biotransformasi berujung pada biodegradasi, dimana polutan beracun terdegradasi, strukturnya menjadi tidak kompleks, dan akhirnya menjadi metabolit yang tidak berbahaya dan tidak beracun. (sumber:Wikipedia)

Menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 128/2003, proses bioremediasi dikatakan berhasil, jika Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) kecil dari 1%. Selain itu, senyawa-senyawa Poly Aromatic Hydrocarbon (PAH) lainnya, seperti Benzena, Toluene, Etil Benzena, Xylene (BTEX) harus dalam kondisi seminimum mungkin. Senyawa-senyawa kimia yang disebutkan ini adalah golongan senyawa yang sangat toksik dan dapat terakumulasi dalam waktu yang cukup lama dalam tubuh makhluk hidup, termasuk manusia di dalamnya. Proses ini berlangsung selama 3-4 bulan.

  1. Kronologi kasus

Perkara korupsi proyek pemulihan lingkungan ini, berawal dari perjanjian antara Badan Pelaksana Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) dan PT Chevron Pasific Indonesia (CPI). Salah satu poin perjanjian itu mengatur tentang biaya untuk melakukan pemulihan lingkungan dengan cara bioremediasi.

Proyek bioremediasi lahan bekas eksplorasi PT Chevron itu berlokasi di Kabupaten Duri, Provinsi Riau pada tahun 2006-2011. Chevron menunjuk PT Sumigita Jaya dan PT Green Planet Indonesia sebagai pelaksana proyek pemulihan lingkungan tersebut.

Namun, menurut Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Adi Toegarisman, bioremediasi yang seharusnya dilakukan selama perjanjian berlangsung, tidak dilaksanakan dua perusahaan yang ditunjuk Chevron, yaitu PT Green Planet Indonesia dan PT Sumigita Jaya. Padahal, anggaran untuk proyek bioremediasi itu sudah dicairkan BP Migas sebesar 23,361 juta dolar Amerika Serikat. “Akibat proyek yang dinilai fiktif ini, negara dirugikan Rp 200 miliar (beberapa sumber mengatakan Rp 100 miliar) dari biaya proyek yang nilainya US$ 270 juta  atau Rp 2,5 triliun.

Kejaksaan Agung menetapkan tujuh tersangka dalam proyek ini, lima orang dari Chevron yaitu Endah Rubiyanti, Widodo, Kukuh, Alexiat Tirtawidjaja, dan kontraktor pelaksana Bioremediasi Bachtiar Abdul Fatah dan dua tersangka lainnya, yaitu Ricky Prematusuri adalah direktur perusahaan kontraktor PT GPI, serta Herlan selaku Direktur PT Sumigita Jaya. Majelis hakim pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) Jakarta memvonis masing-masing tersangka dengan hukuman berbeda karena dinilai terbukti melakukan tindak pidana korupsi dan kasus ini sendiri masih berlanjut di tingkat banding.

Setelah jatuhnya vonis dari Majelis Hakim Tipikor, banyak pakar hukum yang berpendapat bahwa persidangan kasus ini dipaksakan dan mempertanyakan vonis tersebut. Pasalnya, ada beberapa kejanggalan dalam persidangan kasus ini.

  1. Independensi dan kredibilitas saksi ahli yang diragukan. Saksi ahli Edison Effendi, memiliki konflik kepentingan pada kasus ini dan pernah mengikuti tender proyek bioremediasi Chevron Indonesia sebagai kontraktor.
  2. Pengambilan sample dan pengetesan dilakukan oleh saksi ahli tanpa adanya pengawasan pihak ketiga.
  3. Perhitungan kerugian Negara dimana BPKP ditunjuk sebagai penyidik untuk menghitung kerugian Negara. Namun, melalui fakta persidangan terungkap bahwa penyidik melakukan penghitungan kerugian Negara hanya berdasarkan keterangan saksi ahli yaitu Edison dan invoice yang diserahkan oleh Chevron Indonesia.
  4. BPKP juga tidak berkonsultasi dengan SKK MIGAS (dulu BP Migas) yang mengawasi cost recovery. Sekalipun terdapat pelanggaran pada kesepakatan cost recovery, masalah ini akan disidang melalui perdata bukan pidana dan yang bertanggung jawab adalah perusahaan bukan karyawan.
  5. Hakim Antonius (Ketua majelis perkara Bioremediasi) memberikan perpanjangan penahanan terhadap Bahctiar Abdul Fatah (salah satu tersangka), yang ditandatangani tanggal 28 Mei 2013 tapi berlaku sejak 22 Mei 2013.
  • Peraturan terkait
  1. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
  2. Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
  1. Analisa
  • Ethics The manner by which we try to live our lives according to a standard of “right” or “wrong” behavior—in both how we think and behave toward others and how we would like them to think and behave toward us.
  • Business Ethics: The application of ethical standards to business behavior.
  • Organizational culture can be defined as the values, beliefs, and norms shared by all the employees of that organization. The culture represents the sum of all the policies and procedures—both written and informal—from each of the functional departments in the organization in addition to the policies and procedures that are established for the organization as a whole.
  1. Organizational Ethics di Manajemen Chevron Indonesia

Sebagai manajemen seharusnya tanggung jawab secara penuh ada di perusahaan atas program bioremediasi yang dijalankan dan bukan hanya menyalahkan karyawan. Mengingat kebijakan dan prosedur dalam pelaksanaan bioremediasi telah dibuat oleh manajemen perusahaan. Walau terdapat ethical dilemma Top Management Chevron Indonesia jika perusahaan mengambil tanggung jawab penuh akan berdampak negatif bagi citra perusahaan dan kemungkina tuntutan hukum kedepannya.

Kedua kasus ini sebenarnya masih belum jelas, apakah memang benar penanganan bioremediasi tidak dijalankan oleh perusahaan rekanan, ataukah terdapat perbedaan nilai proyek antara kejaksaan dengan internal perusahaan. Jika memang proyek telah dilaksanakan seharusnya perusahaan tidak memecat secara sepihak karyawannya tersebut. Apalagi karyawan tersebut baru bertugas mulai menjabat setelah proyek tersebut berjalan.

  1. Ethics bagi karyawan Chevron yang menjadi tersangka

Chevron memiliki values sebagai berikut: Integrity, Trust, Diversity, Ingenuity, Partnership, dan High Performance. Karyawan Chevron yang saat ini menjadi tersangka, seharusnya menjalankan prinsip Integrity dan Trust dalam menjalankan tanggung jawabnya. Sehingga walau baru menjabat, mereka tetap harus melakukan pengecekan prosedur atas pelaksanaan proyek bioremediasi yang sedang berjalan.

  1. Ethics bagi aparat hukum (pengadilan dan kejaksaan)

Penggunaan saksi ahli yang memiliki conflict of interest seharusnya tidak dilakukan, mengingat hasilnya menjadi diragukan validitasnya. Selain itu sebaiknya ada adanya pihak ketiga independen yang melakukan pemantauan dan penilaian kembali terhadap hasil kajian.

Terdapat pelanggaran etika oleh hakim ketua majelis saat perpanjangan penahanan salah satu tersangka yang tidak sesuai antara tanggal dokumen dengan tanggal efektif pelaksanaan.

  1. Saran
  • Chevron Indonesia sebaiknya mengambil tanggung jawab penuh atas tuntutan tersebut, tidak hanya “mengkambing hitamkan” karyawannya. Jika terdapat penyelewengan dalam proyek, maka kontrol dan koordinasi dengan pihak ketiga yang dirasa kurang.
  • Perusahaan juga dapat melakukan analisa dan memberikan bukti-bukti konkrit berdasarkan data di lapangan atas proyek tersebut jika memang tidak terdapat penyelewengan dan di audit oleh pihak ketiga yang kompeten.
  • Pihak kejaksaan dan pengadilan sebaiknya menggunakan saksi ahli independen dan dalam proses pengambilan sample diawasi oleh pihak ketiga.
  • Pihak BPKP melakukan penilaian ulang dalam menentukan besar kerugian Negara, serta mengundang saksi ahli dan pihak akademisi untuk mendapatkan hasil yang sesuai.

http://id.wikipedia.org/wiki/Bioremediasi

http://riaupos.co/12870-berita-perkembangan-kasus-chevron-nyaris-tidak-terdengar.html

http://www.antaranews.com/berita/373556/chevron-panik-dengan-kasus-bioremediasi

http://www.tribunnews.com/nasional/2013/07/18/putusan-kasus-bioremediasi-chevron-masih-harus-diperdebatkan

http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/03/02/terdakwa-korupsi-bioremediasi-chevron-kecewa-dengan-penangkapan

http://www.suarapembaruan.com/home/jerat-investor-nakal-tuntaskan-kasus-bioremediasi-chevron/36229

http://www.chevron.com/documents/pdf/chevronbusinessconductethicscode.pdf

Andrew Ghillyer, “Business Ethics Now”. 2012

Iklan

About yudhisti

Keep learning and sharing

Posted on 6 Oktober 2014, in Manajemen and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: